SELAMAT DATANG DI BLOG PEMBELAJARAN INOVATIF

Minggu, 11 Januari 2009

REFLEKSI TAYANGAN VIDEO PEMBELAJARAN MATEMATIKA SD DI JEPANG

Refleksi singkat hasil tayangan video Pembelajaran Matematika di Jepang pada tanggal 14 Oktober 2008.

Berikut ini adalah beberapa hal yang sempat kami paham berkenaan dengan tayangan video tersebut antara lain;
Refleksi:
Dari hasil tayangan video tersebut maka kami dengan segala keterbatasannya mencoba merefleksikan berdasarkan apa yang kami lihat dalam tayangan video pembelajaran matematika SD di Jepang pada tanggal 14 Oktober 2008, pembelajaran matematika berkenaan dengan konsep geometri bangun datar di kelas IV SD.

Berdasarkan hasil apa yang dilihat dalam tayangan maka adanya kegiatan pembelajaran yaitu interaksi antara siswa dengan guru juga guru dengan siswa, sehingga pada kegiatan pembelajaran tersebut dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu kegiatan guru dan kegiatan siswa.
Kegiatan Guru Meliputi:
• Pada proses pembelajaran berlangsung guru memberikan konsep awal materi semacam apersepsi untuk memotivasi siswa agar mereka lebih konsensentrasi pada saat pembelajaran berlangsung.
• Guru menyiapkan segala media atau sarana pembelajaran sebelum proses berlangsung. Pada proses tersebut guru menyajikan materi konsep bangun datar yaitu bagaimana menemukan luas daerah segitiga, persegi, segiempat, trapesium yang dibatasi oleh sebuah bidang sebarang.
• Guru membagikan siswa kedalam beberapa kelompok kecil untuk menyelesaikan soal-soal yang diberikan guru.
• Pengelolaan kelas sangat efektif ditandai saat pembelajaran berlangsug kondisi kelas relatif aman, tidak menunjukkan siswa melakukan aktivitas yang lain.
• Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengkonstruksi sendiri pemahamannya.
• Adanya interaksi antara guru dengan siswa khususnya pada saat siswa dibagikan kedalam kelompok kecil dimana guru memberikan argumen bila anggota kelompok menanyakan hal yang mereka pahami dari hasil diskusi kelompok.
• Guru sebagai mediator, dimana guru tidak menyelesaikan masalah tetapi ia hanya menyediakan masalah dan siswa disuruh menjawabnya sendiri, baik secara individu maupun dalam bentuk kelompok.

Kegiatan Siswa Meliputi:
• Siswa penuh konsentrasi pada saat pembelajaran berlangsung yang ditunjukkan oleh siswa dengan penuh semangat menjawab pertanyaan yang diberikan guru.
• Siswa duduk membentuk kelompok kecil untuk menyelesaikan soal-soal yang diberikan guru lalu menyelesaikan soal-soal itu secara bersama-sama dalam diskusi kelompoknya.
• Siswa melaporkan hasil diskusi kelompok di depan kelas dan meminta kelompok lain untuk menanggapinya.
• Bersama-sama dengan guru menyimpulkan soal-soal tersebut dan menyempurnakan jawaban yang masih dianggap keliru.

Jika kita mencermati dengan sungguh-sungguh hasil tayangan video tersebut maka dapat dikatakan bahwa kegiatan pembelajaran yang terjadi disana sangat efektif. Mengapa dikatakan demikian, karena disana sudah terjadi proses interaksi dalam belajar serta siswa sudah siap menerima pelajaran. Sebagai contoh dari persepsi terhada VTR (video tape recording) Jepang siswa dengan antusias menjawab dan menyelesaikan soal-soal yang diberikan guru. Jika kita bandingkan model pembelajaran di Indonesia saat ini sudah mengarah kepada perubahan. Kita ambil contoh kurikulum KTSP yang berlaku saat ini seyogianya menjawab tuntutan dunia pendidikan sekarang. Apabila kurikulum KTSP diterapkan dengan benar saya yakin proses pembelajaran akan berlangsung dengan baik dibarengi dengan penggunaan metode pengajaran yang mampu menjawab kebutuhan peserta didik. Contoh lain juga bahwa di Indonesia juga menerapkan Lesson Study untuk meningkatkan pembelajaran matematika. Berdasarkan beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan Lesson Study dapat meningkatkan kompetensi guru dan motivasi siswa dalam pembelajaran (sukirman, 2002: 99 A Progress Report of the APEC Project ). Saya berpendapat bahwa apabila kita kaitakan pembelajaran yang ada di Jepang mempunyai kesamaan dalam meningkatkan kualitas pendidikan, kompetensi guru, dan motivasi siswa.
Dari tayangan VTR (Video Tape Recording) tersebut maka ditemui hal- hal yang menurut kami sangat unik atau istimewa antara lain;
Materi yang disampaikan guru sangat menarik karena menggunakan media/alat bantu sehingga memudahkan pemahaman siswa. Ketepatan penyampaian materi membuat siswa antusias mengikuti pelajaran. Siswa dengan tepat menyelesaikan soal-soal karena mereka telah menguasai konsepnya dengan benar. Penampilan guru yang sangat formal, mengajar penuh semangat dengan memilih metode yang cocok. Guru, dengan tepat/efektif menggunakan waktu untuk berdiskusi membuat siswa termotivasi menyelesaikan tugasnya. Pada saat mengajar guru menggunakan media pembelajaran yang sesuai yang membuat anak tidak jenuh mengikuti pelajaran. Guru mengelola kelas dengan baik sehingga waktu diskusi siswa dapat mengambil posisinya sendiri-sendiri.
Pada proses pembelajaran yang terjadi disana sudah mencerminkan kegiatan pembelajaran yang efektif menarik dan menyenangkan dengan strategi pembelajaran yang sesuai yaitu melakukan langkah-langkah pembelajaran dengan baik. Hal ini seperti yang telah diutarakan oleh Marsigit (2002) “Promoting Lesson Study as One of the Ways for Mathematics Teachers Profesional Development in Indonesia: the Reflection on Japanese Good Practice of Mathematics Teaching Through VTR”.
Secara rinci ia menggambarkan kegiatan pembelajaran sebagai berikut:
• Guru mengajukan masalah, dan meminta siswa untuk memberi tanggapan dan mencoba menemukannya dan mencoba membangun pemahaman siswa terhadap masalah yang diberikan dari gambar yang ada di papan tulis.
• Siswa memulainya dengan refleksi pada pengetahuan mereka sebelumnya. Pengalaman, dan kesempatan untuk mempelajari beberapa daerah pada tingkat sebelumnya.
• Siswa menguraikan masalah kedalam persegi, segiempat, daerah segitiga siku-siku dan segitiga, jajargenjang atau trapesium dalam urutan menemukan luas daerah dari gambar.
• Dalam diskusi kelompok siswa mereka memulainya dengan mempelajari bagaimana untuk menemukan luas daerah dari sebuah segitiga.
• Siswa diskusi bagaimana menguraikan gambar. Maka, mereka membentuk kelompok kecil untuk menyelesaikan dengan terpisah mengikuti:
- Gambar pada masalah dapat diuraikan kedalam segitiga siku-siku dan segitiga
- Gambar pada masalah diuraikan kedalam beberapa segitiga.
- Gambar pada masalah diuraikan kedalam segitiga, jajargenjang atau trapesium.
- Siswa merumuskan metode/cara untuk menemukan luas daerah dari segitiga yang tidak sama kakinya.
- Siswa mencoba untuk menemukan luas daerah yang berisi empat digunakan untuk rumus luas daerah segitiga.
- Siswa dapat menemukan luas daerah dari keempat daerah yang digunakan.
- Siswa menggunakan jajargenjang untuk menemukan luas daerah dua segitiga kongruan dari segiempat, dan dengan sebuah garis diagonal, siswa dapat menyelesaikan masalah.
- Siswa mencoba menemukan luas daerah jajargenjang.
- Siswa mendukung untuk mempertimbangkan bagaimana menemukan luas daerah belahketupat suatu trapesium.
Untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran dan mencapai kualitas pendidikan yang maksimal sangat sulit dilakukan oleh seorang guru apabila ia tidak siap menerima perubahan dalam tradisinya. Seperti yang biasa dilakukan guru saat ini bahwa mengajar merupakan kegiatan rutinitas yang tidak perlu diganggu oleh pihak luar maupun perubahan yang menghampirinya. Pada saat kita mengunjugi sekolah-sekolah khususnya SD di daerah pinggiran kota, kebanyakan dari mereka masih menerapkan metode pembelajaran yang bersifat konvensional. Hal ini disebabkan mereka sangat sulit menerima perubahan karena berbagai alasan yang menyebabkan mereka tidak dapat menjalankannya. Bahwa dengan banyaknya administrasi kelas yang mereka harus selesaikan akan menyita banyak waktu untuk menyelesaikannya sehingga kebanyakan mereka mengajar materi yang sejak lama mereka kemas dan diperuntukkan untuk pembeelajaran secara berkelanjutan. Dengan kebiasaan inilah pendidikan di Indonesia masih saja sulit mencapai standar pendidikan dunia karena kurangnya inovatif dalam pembelajaran sehingga siswa kurang ditantang untuk menemukan masalah dan dapat memecahkannya. Jika pembelajaran yang ada di Jepang akan merupakan inovasi bagi pembelajaran SD di Indonesia saya yakin pendidikan kita khususnya matematika SD dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang nantinya mampu membentuk manusia yang berkepribadian, inovatif dan mampu menjawab tutuntutan jaman. Strategi pembelajaran yang sangat menarik, kondisi kelas yang menyenangkan, media pembelajaran yang memadai akan memotivasi siswa untuk mengikuti proses pemeblajaran serta siswa mampu menyelesaikan masalah yang ada disekitar mereka. Siswa dapat mengkonstruksi pemahamannya berdasarkan masalah yang diberikan.
Berdasarkan keputusan mentri pendidikan no 22, 23 dan 24 tahun 2006 sejak Juni 2006, pemerintah menetapkan untuk mengimplementasikan kurikulum baru di SD dan SMP yang disebut “KTSP” (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Diharapkan dengan penerapan kurikulum ini siswa mempunyai kompetensi dasar baik kognitif, afektif maupun psikomotor. Untuk mencapai kompetensi dasar tersebut maka dibutuhkan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa SD dan hakekat matematika sekolah. Pemerintah Indonesia mengembangkan pembelajaran yang bersifat kontekstual (Contextual teaching Learning) dan Realistik untuk mendukung implementasi kurikulum dasar-sekolah artinya bahwa pemerintah menganjurkan guru untuk mengembangkan kemampuan siswa untuk memanfaatkan secara optimal untuk mendukung aktivitas belajar siswa. Bidang matematika sekolah dasar meliputi: Bilangan, Geometri dan Pengukuran, dan Analisis Data (dikutip dari: Marsigit, dkk. file “Lesson Study:Promoting Student Thinking on the Concept of Least Common Multiple (LCM) Through Realistic Approach in the 4th Grade of Primary Mathematics Teaching. The State University of Yogyakarta: Indonesia).
Jenning & Dunne (1999) mengatakan bahwa, kebanyakan siswa mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan metematika kedalam situasi kehidupan real. Hal lain yang menyebabkan sulitnya matematika bagi siswa adalah karena pembelajaran matematika kurang bermakna. Guru dalam pembelajaran di kelas tidak mengaitkan dengan skema yang telah dimilki siswa dan siswa kurang diberi kesempatan uantuk menemukan kembali dan mengkonstruksi sendiri ide-ide matematika.
Salah satu pembelajaran matematika yang berorientasi pada matematisasi pengalaman sehari-hari (mathematize of everyday experience) dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari adalah Pembelajaran Matematika Realistik. Pembelajaran matematika realistik pertama kali dikembangkan dan dilaksanakan di Belanda selama kurang lebih 30 tahun dan dipandang sangat berhasil untuk mengembangkan pengertian siswa. Pendekatan ini muncul dengan nama kurikulum mathematics in contex (Romberg, 1998). Pembelajaran ini menekankan akan pentingnya konteks nyata yang dikenal murid dan proses konstruksi pengetahuan matematika oleh murid sendiri. Masalah konteks nyata (Gravemeijer, 1994) merupakan bagian inti dan dijadikan starting point dalam pembelajaran matematika.

1 komentar:

Masfah mengatakan...

videonya mana? saya mau lihat.